URALA International
Menu

Kalau 2025 itu tahunnya Padel, apakah tahun depan masih?

Dewi IkaNovember 27, 20254 min read

Tahun 2025, media sosial penuh dengan video orang main di lapangan kaca, pakai raket kecil, ketawa-ketawa sambil teriak. Beda dengan yang lain, olahraga dengan raket tenis versi mini ini lebih bebas. Pokoknya, yang penting ada satu sampai dua foto yang bisa diunggah ke media sosial. 

Olahraga padel, tren yang kian menjamur dari kota hingga ke kabupaten. Enggak sekadar olahraga, padel pelan-pelan berubah jadi gaya hidup. Lapangan yang awalnya terbatas, kini jadi tempat pelarian dari penat, sarana nongkrong yang lebih sehat, dan ajang bikin konten yang estetik. Enggak heran hampir tiap bulannya ada aja lapangan baru yang buka.

Singkatnya, ini beberapa info soal padel: 

  • Padel adalah olahraga raket yang dimainkan selalu berpasangan (2 vs 2).
  • Lapangannya lebih kecil dari tenis, dikelilingi dinding kaca/mesh.
  • Bola boleh memantul ke dinding sebelum dikembalikan.
  • Servis dilakukan dari bawah, sehingga lebih ramah pemula.

Sederhana, kan? Kalau kita mau rangkum dalam satu kalimat, padel itu ibarat campuran rasa antara tenis dan squash. Cuma, kegiatan ini makin seru karena dibungkus dengan suasana lebih santai, sosial, dan fun. 

Padel ini juga enggak terlalu berat, jadi siapapun bisa main. Biasanya bermain padel akan jadi momen quality time bareng teman bahkan pasangan, dan pastinya tetap terlihat keren dan relevan di media sosial. Makanya banyak yang berpikir “Kalau olahraga bisa seasik ini, mungkin gue bisa konsisten….”

Tren viral padel didukung ekosistem digital marketing yang juga berubah

Lebih dari sekadar Ulang Tahun, acara "Padel Bareng Luna" yang diadakan oleh Luna Maya bukanlah sekadar kumpul-kumpul sosial. Dari sudut pandang pemasaran digital (Digital Marketing), acara ini adalah masterclass dalam Event Marketing yang berhasil menciptakan Viralitas masif.

Viralitas "Padel Bareng Luna" adalah hasil eksekusi strategi Digital Marketing yang terencana, bukan sekadar keberuntungan : 

1. Pemanfaatan Network Effect, karena setiap tamu yang hadir simpul network yang berbeda. 

2. Long Form Content untuk Affinity, selain video pendek di sosial media masing-masih KOL, acara ini juga didokumentasikan dalam video YouTube di kanal Luna Maya 

3. Media Exposure Otomatis, karna banyaknya selebriti yang top menjadikan acara ini newsworthy.

Viralnya padel di 2025 bukan hanya karena olahraganya seru, tapi juga karena ekosistem digital marketing yang lagi berubah besar-besaran. Kaya yang kita semua tau kalo video pendek reels di Instagram, TikTok dan Youtube shorts banyak disukai audiens karena memberikan informasi, hiburan atau inspiratif dalam hitungan detik. Perubahan lainnya sekarang influencer dan komunitas punya peran besar, karena audiens lebih percaya sama sosok yang terasa dekat dan apanya, mungkin karena sudah capek liat iklan. Lalu juga AI yang bisa diandelin banget di era digital dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Ada beberapa hal yang membuat padel jadi “Viral” sempurna untuk dunia marketing. Di 2025, banyak brand berinvestasi besar di KOL dan creator. Mereka butuh:

  • Aktivitas offline yang bisa memperkuat personal branding KOL,
  • Sekaligus konten online yang terlihat aspiratif dan estetik.

Padel menjawab dua-duanya. Influencer lifestyle, pebisnis muda, sampai selebritas bisa main Padel. Ketika makin banyak figur publik mengunggah aktivitas padel, algoritma platform pun membaca bahwa konten jenis ini disukai dan ditonton lama, sehingga distribusinya makin luas. Di sinilah efek bola salju terjadi.

Jadi, kalau 2025 itu tahunnya Padel, apakah tahun depan masih?

Secara storytelling, padel memang klop banget dengan narasi marketing 2025: work–life balance, mental health, dan active lifestyle. Ada elemen “kabur sejenak dari stres”, plus sentuhan estetika yang cakep banget di kamera. Tapi apakah padel akan kuat hingga tahun depan atau hanya seumur jagung?

Soalnya nih ya, melihat dari fenomena lapangan padel yang tutup di Swedia dan negara lain. Mereka tutup secara massal karena ekspansi berlebihan, antusiasme surut dan persaingan harga yang ketat serta kenaikan biaya operasional.

Menurut ahli bisnis Andreas Kaplan dan Michael Haenlein, media sosial itu sebenarnya cuma kumpulan aplikasi di internet yang dipakai orang untuk saling terhubung dan berbagi. Di dalamnya ada yang namanya siklus tren: satu topik, tagar, atau gaya visual bisa tiba-tiba rame, naik daun, lalu pelan-pelan sepi dan hilang, sebelum suatu saat bisa muncul lagi. 

Jadi, supaya sebuah tren punya peluang “bangkit lagi” di masa depan, dia harus punya dasar yang kuat dan tetap relevan buat banyak orang. Itu sebabnya, brand dan kreator perlu terus berinovasi dalam jangka panjang, bukan cuma ikut-ikutan tren sesaat.

Gimana menurut kamu soal tren padel ini? Atau kamu sedang garap event padel? Yuk, hubungi URALA International Indonesia untuk insight lebih lanjut dan eksekusi lebih matang.

Integrated Marketing & PR Agency

From building a memorable brand identity to launching targeted marketing campaigns, our team of experts is committed to navigating the complexities

WORK WITH PEOPLE AT URALA

Contact Us