
Pernah enggak kamu lihat brand yang postingnya rajin banget feed rapi, stories tiap hari, reels juga rutin, tapi entah kenapa… tetap terasa “kurang meyakinkan”?
Nah, di era digital sekarang, banyak brand memang berlomba-lomba terlihat aktif. Seolah-olah kalau tidak update, brand itu “mati”. Tapi coba kita pikir-pikir deh: aktif di media sosial saja itu cukup tidak untuk bikin orang percaya?
Jawabannya sering kali: belum tentu.
Karena digital itu bukan cuma Instagram, TikTok, atau LinkedIn. Digital itu ekosistem yang lebih luas, ada website, media online, search engine, data, dan yang sering terlupakan: komunikasi resmi brand dan di titik inilah press release masih relevan, bahkan bisa jadi alat validasi yang paling kuat.
Era digital bukan cuma soal media sosial
Media sosial memang paling terlihat. Interaksinya cepat, jangkauannya luas, dan format kontennya fleksibel. Tapi perlu diingat, media sosial lebih cocok disebut sebagai ruang percakapan, bukan ruang legitimasi.
Brand bisa terlihat ramai di media sosial, tetapi tetap dipertanyakan kredibilitasnya. Audiens sekarang semakin kritis mereka tidak hanya melihat seberapa sering brand muncul, tapi juga mencari bukti bahwa brand itu benar-benar relevan, profesional, dan layak dipercaya.
Nah, inilah yang jadi peran press release; yaitu sebagai jembatan antara aktivitas digital brand dan validasi profesional melalui media yang kredibel.
Meski banyak yang menganggap press release sudah ketinggalan zaman, fungsinya tidak pernah berubah. Cara distribusinya memang bertransformasi seiring dengan perkembangan digital.
press release kini tidak lagi terbatas di media cetak. Ia hadir di media online, portal industri, database digital, bahkan muncul di hasil pencarian Google. Ketika audiens, calon partner, atau investor mencari informasi tentang brand, press release sering menjadi sumber yang dianggap paling “resmi” dan bisa ditelusuri.
Press release sebagai penguat sebuah brand
Kalau media sosial itu tempat kamu bilang, “Brand kami keren,” maka press release itu seperti pihak ketiga yang bilang,
“Oke, ini brand memang layak diperhatiin.”
Kenapa? Karena saat rilis masuk media, biasanya ada proses seleksi dan penyuntingan. Media tidak asal publish. Ada standar tertent sehingga proses itu memberi efek: legitimasi pada brand kamu.
Makanya press release sering dipandang sebagai pengakuan eksternal—bukan klaim sepihak dari brand.
Kesalahan umum dalam pengelolaan press release
Banyak brand sudah menggunakan press release, namun belum mendapatkan dampak yang optimal. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menganggap press release hanya sebagai formalitas.
Beberapa kekeliruan umum meliputi:
- terlalu jualan, kurang nilai berita
- pesannya tidak relevan dengan industri
- distribusi medianya salah target
- tidak konsisten (sekali rilis lalu hilang)
Akibatnya, press release tidak memberikan kontribusi nyata terhadap reputasi brand dan hanya menjadi arsip internal.
Coba bayangin press release itu seperti potongan puzzle. Kalau dipasang sendirian, gambarnya tidak akan kebentuk. Idealnya, press release jadi bagian dari strategi PR yang terintegrasi, di mana:
- pesannya nyambung dengan tujuan bisnis
- tone dan narasi konsisten dengan identitas brand
- isu yang diangkat relevan buat audiens
- hasilnya bisa dievaluasi (coverage, reach, sentiment, dll)
Dengan begitu, press release bukan sekadar tayang—tapi membangun cerita brand secara berkelanjutan.
Patut diperhatikan bahwa \reputasi brand itu tidak instan. Kamu perlu konsistensi dan arah komunikasi yang jelas. press release membantu membentuk rekam jejak mencatat milestone, memperkuat positioning, dan menambah kredibilitas dari waktu ke waktu.
Bahkan saat brand menghadapi isu, jejak komunikasi yang kuat bisa jadi “benteng” reputasi.
Kapan brand perlu mengelola press release secara profesional?
Coba cek, brand kamu ada di fase ini tidak:
- bisnis mulai berkembang
- audiens makin luas
- reputasi mulai berpengaruh ke penjualan/partner
- exposure media mulai penting
Kalau iya, press release biasanya tidak bisa lagi dikerjakan “seadanya”. Perlu lebih strategis, walau mungkin kamu belum perlu menggunakan jada agency. Sederhananya, mulailah mendistribusikan press release di laman blog bisnis kita. Setidaknya, ketika potensi customer sedang melirik brand kita, ada informasi soal brand yang relevan dan bisa menambah value.
Namun, ketika brand sudah lebih berkembang dan punya ciri-ciri sebagai berikut:
- mulai rutin berhubungan dengan media
- sering punya momen penting (launching, campaign, partnership)
- ingin reputasinya dibangun lebih terarah
Di tahap ini, press release bukan hanya soal menulis rilis. Tapi soal memutuskan: Isu apa yang perlu diangkat, angle-nya apa, media targetnya siapa, dan narasinya mau dibangun ke mana.
Kalau press release sudah jalan tapi hasilnya belum terasa, yang perlu dibenahi bukan cuma “berapa kali rilis” tapi strateginya.
Bersama URALA International Indonesia, brand kamu akan didampingi tim PR yang memahami press release sebagai bagian dari strategi reputasi. Mulai dari perencanaan pesan, pemilihan media yang relevan, sampai memastikan konsistensi narasi—semuanya dilakukan secara terukur.
Jadi, brand kamu tidak cuma terlihat aktif… tapi juga terasa kredibel.
